
Oleh: Sugiyanto (SGY)-Emik Pengamat kebijakan publik
Koranmetronews. Id (Jakarta) – Sebelum melanjutkan penulisan artikel ini, aku ingin mempertanyakan satu hal: mengapa dalam Podcast Akbar Faisal Uncensored, Akbar Faisal tidak menanyakan soal integritas dan konsistensi Rocky Gerung antara perkataan dan perbuatannya?
Aku juga ingin menyampaikan kepada Rocky Gerung: jangan berlindung di balik perisai “pendapat pribadi” terkait sarannya agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur! Jabatan Wantimpres BUKAN Tameng Politik untuk Berlindung di Balik “Pendapat Pribadi”!
Sengaja aku perpertanyakan hal tersebut karena ingin mengulas dua hal penting dalam podcast Akbar Faisal Uncensored pada 8 Oktober 2026. Pertama, tentang panggung pembelaan yang diberikan Akbar Faisal melalui podcast-nya, termasuk kesempatan bagi Wantimpres Rocky Gerung untuk menyampaikan klarifikasi dan pembenaran atas keputusannya bergabung dengan bahtera pemerintahan Prabowo-Gibran.
Kemudian, hal yang kedua adalah pernyataan mengenai usulan atau saran Rocky Gerung kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengundurkan diri secara elegan. Pandangan ini disampaikan Rocky Gerung dalam podcast Akbar Faisal Uncensored setelah terbitnya Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam Perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 mengenai keabsahan syarat pendidikan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pada Pemilu 2024.
Sebelum melanjutkan, perlu aku sampaikan bahwa aku akan menggunakan kata aku, Anda, dan Bung dalam tulisan ini untuk menunjukkan sikap egaliter. Tidak ada perbedaan antara pintar dan bodoh, akademisi, politisi, maupun kelompok lainnya. Ukurannya bukan gelar, jabatan, atau status sosial, melainkan moral, etika, dan integritas.
Untuk apa seseorang menyandang gelar filsuf, akademisi, politisi, atau label hebat lainnya jika tidak memiliki integritas, terlebih jika tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan? Karena itu, orang biasa, orang miskin, bahkan rakyat jelata jauh lebih terhormat apabila mereka memiliki integritas, menjunjung tinggi etika dan moral, serta selalu konsisten antara perkataan dan perbuatan.
Dalam ajaran Islam, Allah SWT menilai manusia bukan berdasarkan kekayaan, jabatan, gelar, atau status sosialnya, melainkan berdasarkan iman dan ketakwaannya. Sebab, kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT tidak ditentukan oleh kelebihan duniawinya, tetapi oleh ketakwaan dan kualitas amalnya. Perlu diketahui bahwa untuk mengulas artikel ini secara lebih komprehensif, aku perlu mendengarkan podcast Akbar Faisal Uncensored tersebut berulang kali agar dapat memahami isi pembicaraan, konteks pernyataan, serta maksud yang disampaikan secara lebih mendalam dan menyeluruh.
Oke deh, aku mulai dengan menyoroti Bung Akbar Faisal. Menurutku, sepertinya Akbar Faisal juga kecewa karena Rocky Gerung, tanpa memberi lampu sein atau aba-aba, tiba-tiba bersedia bergabung dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun, sepertinya kekecewaan Akbar Faisal tidak sepenuhnya tuntas karena ia masih memberikan toleransi, dengan harapan tertentu, atas keputusan Rocky Gerung tersebut.
Kondisi kekecewaan dan toleransi Akbar Faisal setidaknya dapat dilihat dari cuitannya di X, yang juga diungkap saat berlangsungnya podcast Akbar Faisal Uncensored bersama Rocky Gerung. Adapun isi cuitan tersebut adalah sebagai berikut, yang aku salin atau ambil dari tampilan layar saat podcast berlangsung:
Cuitan Akbar Faizal (@akbarfaizal68) di X, 3 Oktober 2026, pukul 08.09 WIB:
“@rockygerung, lihatlah betapa banyak yang mencintaimu. Namun sebagian lalu kecewa berat kamu masuk dan menjadi bagian dari kekuasaan. Pahami mereka. Manusia sejenismu tampaknya dijadikan alat ukur kadar kejahatan etik. Namun saya justru senang kamu di sana. Presiden dan para pembantunya yg kamu sebut ‘tak paham ideologi Prabowo’ bisa mendengar langsung darimu, di meja yang sama dan di Istana pula, tentang apa yg seharusnya mereka dengar tanpa basa-basi.
Puluhan tahun kita bertengkar membuatku yakin kamu takkan ….?!! …??! ( dua kata, titik-titik aku hapus) di depan Presiden, apalagi Wapresnya. Atur ritmemu di sana, Bro. Sebagian alur logika publik terlanjur mengikutimu. Tapi kamu pun pasti tahu kita akan bertengkar lebih keras lagi jika kamu jadi bodoh pula di sana. @prabowo.”
Ngeri ya, membaca cuitan Akbar Faisal soal Rocky Gerung sampai ada kata yang sangat serem, yakni “………?!?….?!?!”. Ya, jelas, ngeri-ngeri sedap ini namanya. Ha, ha, ha! Bung Akbar memang top markotop!
Tentang Akbar Faisal Membahas Rocky Gerung, kesimpulannya, podcast Akbar Faisal Uncensored yang tayang pada 8 Oktober 2026 membahas alasan Rocky Gerung menerima jabatan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), komitmennya untuk tetap kritis terhadap pemerintah, kritik terhadap Istana. Rocky juga menegaskan bahwa dirinya bukan anggota kabinet dan menyatakan bahwa posisinya di Istana justru memberinya kesempatan untuk menyampaikan masukan secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Kesimpulan akhirnya, Rocky Gerung tidak harus berhenti mengkritik setelah menjadi Wantimpres. Justru karena ia kini berada di dalam Istana, publik berhak menagih bukti bahwa keberaniannya tidak berubah menjadi kompromi. Akbar Faisal pun patut memastikan bahwa podcast-nya bukan hanya menjadi ruang bagi Rocky untuk menjelaskan pilihannya, tetapi juga ruang untuk menguji integritas dan konsistensi antara kritik yang pernah dilontarkan dan sikap yang akan ditunjukkan setelah memperoleh jabatan.
Dari konteks tersebut, podcast itu sangat bagus bagi Rocky Gerung karena memberinya panggung untuk menjelaskan semua hal negatif yang pernah dipersoalkan. Semua hal yang dituduhkan kepada Rocky Gerung dapat dijelaskan melalui podcast Akbar Faisal Uncensored melalui pertanyaan-pertanyaan Akbar Faisal yang langsung dijawab oleh Rocky Gerung.
NAMUN, SANGAT DISAYANGKAN SIKAP AKBAR FAISAL, YAKNI MENGAPA AKBAR FAISAL TIDAK BERTANYA DAN MEMPERDALAM PERSOALAN YANG JUGA MENJADI PERHATIAN PUBLIK, YAITU SOAL INTEGRITAS DAN KONSISTENSI ATAU KESESUAIAN ANTARA PERKATAAN DAN PERBUATAN SEORANG ROCKY GERUNG YANG JUGA TERKENAL DENGAN JULUKAN AKADEMISI, DOSEN, SERTA FILSUF TOP NEGERI INI.
Bukankah ada pernyataan Rocky Gerung yang diketahui publik dan potongan videonya juga viral? Potongan video singkat yang viral di media sosial menampilkan dua tokoh akademisi, Feri Amsari dan Rocky Gerung, yang sedang berdialog. Dalam potongan video tersebut, Feri Amsari kira-kira bertanya kepada Rocky Gerung, “Kalau panggilan mengabdi datang, bagaimana?”
Rocky Gerung kemudian menjawab bahwa apabila tawaran tersebut datang, maka dengan “cara saksama dalam tempo sesingkat-singkatnya” akan ditolak.
Selain itu, ada pula pernyataan Rocky Gerung yang menyebutkan bahwa lingkungan Istana Negara terasa sangat “menjijikkan” karena kentalnya nuansa hierarki di antara orang-orang di dalamnya, dan seterusnya, dan deterusnya.
Tidak hanya itu, Rocky Gerung juga pernah mengkritik Presiden Prabowo dengan kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan kepada kepala negara, seperti “……???!!” dan “……??!!”, serta berbagai pernyataan negatif lainnya. Semua pernyataan ini masih dapat ditemukan rekam jejaknya, baik di media online maupun di media sosial dan sumber lainnya.
Pertanyaannya adalah, mengapa podcast Akbar Faisal Uncensored tidak mempertanyakan semua hal ini kepada Rocky Gerung serta mendalaminya? Mengapa tidak mempertanyakan apa yang dapat dijawab Rocky Gerung mengenai semua ini jika dikaitkan dengan integritas dan konsistensi antara perkataan dan perbuatan, terutama bagi seorang pemikir, cendekiawan, akademisi, bahkan seorang filsuf top seperti Rocky Gerung?
Padahal, justru hal inilah yang menjadi perhatian dan pertanyaan publik yang perlu dijawab oleh seorang filsuf top seperti Rocky Gerung. Rakyat atau publik tidak pernah melarang atau iri kepada siapa pun yang masuk, bergabung, atau menjadi bagian dari pemerintah, bahkan menjadi menteri sekalipun.
Tetapi, persoalannya berbeda apabila seseorang pernah berucap di depan publik bahwa dirinya tidak akan mau bergabung dengan pemerintah. Sebab, hal ini dapat dianggap sebagai pembohongan publik jika ia mengingkari ucapannya tersebut tanpa memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebenarnya, pada akhir sesi, ada momentum untuk mengupas persoalan integritas dan konsistensi filsuf Rocky Gerung dalam mempertanggungjawabkan perkataannya. Momentum itu muncul ketika Akbar Faisal menyebut sebuah buku karya filsuf Prancis, Julien Benda (1867–1956), yang berjudul La Trahison des Clercs (1927). Buku ini dikenal dalam bahasa Inggris dengan judul The Treason of the Intellectuals, atau Pengkhianatan Kaum Intelektual.
Buku tersebut mengkritik kaum intelektual yang mengorbankan kebenaran dan prinsip moral demi kepentingan politik, ideologi, nasionalisme, atau ambisi pribadi. Inti pemikiran Julien Benda adalah bahwa seorang intelektual seharusnya menjadi penjaga kebenaran, bukan justru menjadi pembenar kekuasaan.
Namun, sayangnya, saat itu Akbar Faisal tidak menggali persoalan tersebut secara lebih mendalam dan tidak mengejar jawaban Rocky Gerung dengan mengaitkannya pada prinsip integritas serta konsistensi antara perkataan dan perbuatan seorang Rocky Gerung.
Sebaliknya, ketika Rocky Gerung mengalihkan pembicaraan dengan menjelaskan kaum sofis (Sophists), yang dikenal sebagai kelompok pemikir dan ahli retorika pada zaman Yunani Kuno, serta istilah medioker untuk menggambarkan orang yang biasa-biasa saja atau tidak memiliki keunggulan tertentu, Akbar Faisal hanya mendengarkan hingga Rocky Gerung selesai berbicara.
Akibatnya, terlewatlah kesempatan untuk mengaitkan pemikiran Julien Benda dengan persoalan integritas dan konsistensi Rocky Gerung, khususnya mengenai kesesuaian antara perkataan dan perbuatannya.(john)



