Koranmetronews. Id (Jakarta) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menunjuk Prof. Dr. KH. M. Asrorun Ni’am Sholeh, M.A. sebagai Rais Karteker Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jambi. Penunjukan tersebut menjadi bagian dari langkah PBNU membenahi tata kelola organisasi sekaligus mempersiapkan penyelenggaraan Konferensi Wilayah (Konferwil) baru dalam waktu paling lambat enam bulan.
Penunjukan itu tertuang dalam Surat Keputusan PBNU Nomor 818/PB.01/A.II.01.44/99/08/2026 tentang Pembekuan dan Penunjukan Karteker PWNU Provinsi Jambi Masa Kerja 2026. Dalam keputusan tersebut, PBNU membatalkan kepengurusan PWNU Jambi sebelumnya dan menetapkan susunan kepengurusan karteker dengan Prof. Asrorun Ni’am sebagai Rais.

Selain memimpin karteker, Ni’am juga dikenal sebagai Ketua Umum Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Pengalaman memimpin berbagai organisasi dinilai menjadi modal penting dalam menjalankan mandat konsolidasi organisasi di Jambi.
Direktur Eksekutif INTRAPOLS (Institute for Strategic and Political Studies), Bustomi Menggugat, menilai keputusan PBNU menempatkan Prof. Asrorun Ni’am sebagai Rais Karteker mencerminkan kepercayaan terhadap kapasitas kepemimpinan generasi muda NU yang memiliki rekam jejak kuat dalam tata kelola organisasi.
“Prof. Ni’am merupakan salah satu representasi pemimpin muda NU yang memiliki kapasitas intelektual, pengalaman organisasi, dan kemampuan manajerial yang teruji. Penugasan ini menunjukkan bahwa PBNU membutuhkan figur yang mampu mengonsolidasikan organisasi sekaligus menjaga proses transisi berjalan baik,” kata Bustomi, Rabu (5/8/2026).
Menurut dia, tantangan NU pada abad kedua bukan hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga memperkuat tata kelola organisasi yang profesional, adaptif, dan mampu menjawab dinamika sosial-politik yang terus berkembang.
“NU membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar memiliki legitimasi keulamaan, tetapi juga piawai membangun tata kelola organisasi modern. Dalam konteks itu, Prof. Ni’am memiliki kombinasi kompetensi akademik, pengalaman kepemimpinan, dan kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok,” ujarnya.
Bustomi menambahkan, pengalaman Ni’am memimpin organisasi nasional membuatnya memahami pentingnya membangun konsensus di tengah keberagaman pandangan warga NU.
“Figur seperti Prof. Ni’am dibutuhkan untuk memastikan proses konsolidasi organisasi berjalan demokratis, akuntabel, dan tetap berorientasi pada kemaslahatan jam’iyah. Ini menjadi karakter kepemimpinan yang relevan untuk mengawal NU memasuki abad keduanya,” katanya.
Dalam surat keputusan tersebut, PBNU juga menugaskan kepengurusan karteker untuk menjalankan roda organisasi PWNU Jambi sesuai Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan peraturan organisasi, sekaligus menyelenggarakan Konferensi Wilayah paling lambat enam bulan sejak penetapan keputusan. (John)





