Mulai 2027 Bahasa Inggris Menjadi Mapel Wajib di Kelas 3 Sekolah Dasar

  • Whatsapp

Koranmetronews. Id (Jakarta)  – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa pada tahun 2027 mendatang Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran (mapel) wajib untuk siswa kelas 3 SD.

Hal itu diungkapkan Mu’ti saat meresmikan Revitalisasi Pendidikan di Sekolah Menengah Kejujuran Negeri (SMKN) 1 Sikur di Lombok Timur, Minggu (17/5/2026).

“Mulai 2027 Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD,” kata Mu’ti dikutip dari Antara, Senin (18/5/2026).

Persiapkan hal-hal untuk menunjang kebijakan tersebut Mu’ti mengatakan, saat ini pihaknya tengah mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk menunjang kebijakan tersebut. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan guru Bahasa Inggris. Pelatihan tersebut, kata Mu’ti dilakukan secara bertahap pada semua guru-guru SD di seluruh Indonesia.

“Sekarang sedang kami siapkan bagaimana agar program itu dapat berjalan melalui pelatihan para guru SD dalam mata pelajaran Bahasa Inggris,” ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengan (Kemendikdasmen) dalam meningkatkan mutu pendidikan dan membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21 sejak usia dini. Sehingga dengan penguasaan Bahasa Inggris, anak-anak Indonesia bisa lebih mudah masuk ke pasar global.

“Dengan penguasaan Bahasa Inggris yang lebih awal, diharapkan siswa Indonesia mampu bersaing di kancah global,” jelas Mu’ti.

Kecakapan bahasa Inggris global

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menilai penting ada peningkatan kapasitas guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Sebab, menurut Atip, saat ini peringkat Indonesia dalam Indeks Kecakapan bahasa Inggris global masih terbilang rendah.

Dikatakannya, berdasarkan hasil pemeringkatan yang dilakukan oleh Education First EPI (English Proficiency Index, 2024), Indonesia menduduki peringkat 80 dari 116 negara di dunia, dan peringkat 12 dari 23 negara di Asia. “Saya ingin tekanan agar bahasa Inggris ini jangan berhenti sebagai mata pelajaran yang diajarkan karena tidak akan menjadikan anak didik kita mahir berbahasa kalau hanya berhenti sebagai pelajaran tapi harus betul-betul sebagai alat untuk berkomunikasi,” kata Atip.(john)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *