Koranmetronews.id (Jakarta) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta menegaskan bahwa perpustakaan harus hadir sebagai ruang berbagi yang sehat untuk memastikan informasi beredar di kalangan warga adalah pengetahuan yang mencerahkan.
“Perpustakaan harus hadir sebagai tempat informasi diverifikasi, pengetahuan diperdalam, dan percakapan publik dipandu dengan nilai. Ketika masyarakat suka berbagi, maka perpustakaan harus memastikan bahwa yang dibagikan adalah pengetahuan yang mencerahkan,” kata Kepala Dispusip DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono dalam seminar bertema “Pengembangan Koleksi Tematik Berbasis Kebutuhan” di Jakarta, Kamis.
Nasruddin mengingatkan karakter masyarakat di tanah air adalah suka berbagi. Sebelum era media sosial hadir, budaya gotong royong, musyawarah, pengajian warga, arisan tetangga, hingga ronda kampung membentuk kebiasaan berbagi cerita, pengalaman, dan pengetahuan.
“Di Indonesia, di Jakarta, informasi tidak hanya berpindah melalui data atau dokumen, namun seringkali melalui cerita dan relasi sosial, apa yang didengar oleh tetangga, keluarga, atau komunitas, seringkali lebih dipercaya,” kata dia.
Di sinilah peran perpustakaan menjadi sangat penting, yakni bukannya mematikan budaya berbagi itu namun mengarahkan budaya berbagi menjadi budaya belajar bersama, ujarnya.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendorong perpustakaan menjadi laboratorium inovasi dan terus tumbuh dari ruang baca menjadi pusat pembelajaran, pemberdayaan, dan kolaborasi dengan warga.
Selain itu, Pemprov DKI terus berupaya menghadirkan layanan perpustakaan umum termasuk yang berada di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) berbasis kebutuhan masyarakat sebagai salah satu upaya mewujudkan perpustakaan sebagai ruang inklusif.
“Kami ingin perpustakaan umum, termasuk yang berada di RPTRA, hadir secara sosial dengan koleksi yang relevan, program yang kontekstual, layanan yang inklusif, serta komunitas terlibat sebagai mitra,” kata Nasruddin.
Dia menyampaikan, layanan berbasis kebutuhan warga menjadi fondasi kualitas layanan perpustakaan karena koleksi bukan sekadar daftar judul atau angka pengadaan melainkan cerminan keberpihakan perpustakaan.
“Jika koleksi disusun berbasis kebutuhan dan berbasis dampak, maka perpustakaan akan hadir sebagai ruang solusi. Perpustakaan umum harus menjadi katalis kemajuan masyarakat,” kata Nasruddin yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Perpustakaan Umum Indonesia (FPUI).
Upaya ini dilakukan salah satunya dengan mengadakan seminar yang melibatkan pengurus RPTRA, pustakawan hingga pakar pengembangan perpustakaan.
Selain itu, Pemprov DKI melalui Dispusip dan FPUI berkomitmen untuk terus berinovasi serta bersinergi dengan Perpustakaan Nasional agar perpustakaan umum dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat sekaligus semakin kokoh sebagai pilar literasi bangsa.(john)






